Di tengah derasnya arus zaman yang kerap menekankan individualisme dan kenyamanan instan, kegiatan Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) di bumi perkemahan SDK Ignatius Slamet Riyadi II yang terjadi pada hari Jumat dan Sabtu tanggal 7 dan 8 November 2025 menjadi ruang formasi yang sangat berharga. Di sinilah peserta didik diajak untuk keluar dari zona nyaman dan masuk ke dalam pengalaman hidup bersama, dan belajar menjadi pribadi yang tangguh, bertanggung jawab, disiplin, berbela rasa serta beriman. Dengan tema “Kompak dan Disiplin Menjadikan Diri Menjadi Pramuka yang Mandiri” bukan sekadar semboyan kegiatan, melainkan cerminan dari proses pembentukan karakter yang utuh dan berakar dalam spiritualitas Katolik.
Kekompakan dalam Pramuka bukan hanya tentang barisan yang rapi atau yel-yel yang serempak, tetapi tentang semangat hidup dalam komunitas. Dalam terang iman, kekompakan mencerminkan panggilan untuk menjadi satu tubuh dalam Kristus, seperti yang dikatakan Rasul Paulus: “Kamu adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah anggotanya” (1 Korintus 12:27). Dalam setiap kerja sama memasak bersama, atau menyelesaikan tantangan kelompok, anak-anak belajar bahwa keberhasilan bukanlah hasil kerja individu, melainkan buah dari kebersamaan, saling percaya, dan saling melengkapi. Di sinilah nilai-nilai sosial seperti empati, solidaritas, dan komunikasi yang sehat mulai tumbuh dan berakar.
Namun kekompakan tidak akan bertahan tanpa disiplin. Disiplin adalah fondasi yang menopang kekompakan agar tidak runtuh oleh ego dan keinginan pribadi. Dalam kegiatan Pramuka, disiplin tampak dalam ketaatan pada aba-aba, ketepatan waktu, dan kepatuhan pada aturan perkemahan. Dalam kehidupan rohani, disiplin adalah bentuk kesetiaan pada kehendak Allah. Yesus sendiri mengajarkan, “Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23). Maka, ketika peserta didik belajar bangun pagi tepat waktu, menjaga kebersihan, atau menyelesaikan tugas dengan tekun, mereka sedang dilatih untuk menjadi murid Kristus yang bertanggung jawab dan setia dalam perkara kecil maupun besar.
Kekompakan dan disiplin yang dijalani dengan sukacita dan kesadaran akan membuahkan kemandirian. Kemandirian bukan berarti hidup sendiri tanpa bantuan, tetapi kemampuan untuk mengambil keputusan yang benar, bertindak dengan tanggung jawab, dan tetap teguh dalam nilai-nilai Kristiani meskipun tidak diawasi. Dalam Pramuka, kemandirian tampak ketika anak-anak mampu mengatur perlengkapan sendiri, menyelesaikan tantangan tanpa bergantung pada orang tua atau guru, dan berani tampil sebagai pemimpin dalam kelompok. Dalam terang iman, kemandirian adalah buah dari kedewasaan rohani, seperti yang dikatakan Santo Paulus, “Janganlah kamu menjadi anak-anak dalam hal pemikiran, tetapi jadilah dewasa dalam pengertian” (1 Korintus 14:20).
Kemandirian yang dibentuk melalui kekompakan dan disiplin akan menghasilkan pribadi yang utuh: cerdas secara intelektual, kuat secara moral, dan kokoh secara spiritual. Inilah tujuan utama pendidikan Katolik: membentuk manusia seutuhnya, yang tidak hanya pandai secara akademik, tetapi juga bijak dalam hidup, berbelarasa terhadap sesama, dan setia kepada Tuhan. Perjusa menjadi miniatur kehidupan, tempat anak-anak belajar menghadapi tantangan, mengelola emosi, bekerja sama, dan bertumbuh dalam iman.
Dalam konteks lembaga pendidikan, kegiatan seperti Perjusa bukan hanya pelengkap kurikulum, tetapi bagian integral dari visi misi sekolah Kasih Unggul dan Peduli. Sekolah yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial dalam setiap kegiatan akan menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap menghadapi dunia, tetapi juga siap membangun dunia dalam terang Injil. Guru, orang tua, dan seluruh komunitas Pendidikan SDK Ignatius Slamet Riyadi II diajak untuk mendukung proses ini dengan semangat kekompakan, kedisiplinan, dan keteladanan.
Akhirnya, kepada seluruh peserta didik, Perjusa ini adalah kesempatan emas untuk melatih diri menjadi Pramuka yang sejati: kompak dalam kebersamaan, disiplin dalam tindakan, dan mandiri dalam hidup. Jadikan setiap langkahmu di bumi perkemahan sebagai doa yang hidup, setiap kerja sama sebagai pujian kepada Tuhan, dan setiap tantangan sebagai salib yang dipikul dengan sukacita. Kepada para pendidik dan orang tua, mari kita terus menanamkan nilai-nilai Kristiani dalam setiap proses pendidikan, agar anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang utuh, tangguh, dan siap menjadi terang bagi dunia.


Tuliskan Komentar Anda