SDK SLAMET RIYADI II

Kasih Dan Kepedulian Menjadi Kemuliaan Allah Yang Lebih Besar

KASIH DAN KEPEDULIAN MENJADI KEMULIAAN ALLAH YANG LEBIH BESAR

KASIH DAN KEPEDULIAN MENJADI KEMULIAAN ALLAH YANG LEBIH BESAR

DARI YAYASAN PENDIDIKAN IGNATIUS SLAMET RIYADI CIJANTUNG-JAKARTA TIMUR UNTUK FLORES

KASIH DAN KEPEDULIAN MENJADI KEMULIAAN ALLAH YANG LEBIH BESAR

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” 

(Matius 25:40)

Pada pertengahan bulan Agustus tepatnya pada hari Sabtu 15 Agustus 2026 ketika Gereja sejagad merayakan hari raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dan negara kita Indonesia tengah mempersiapkan diri menyongsong hari ulang tahun kemerdekaan, bumi Flores berguncang hebat. Gempa dengan kekuatan magnitude 7,7 menghempas segala harapan dan mimpi yang masih tergenggam erat dalam rencana dan rancangan hidup. Siapa sangkah bahwa di pagi hari nan syadu, semilir angin masih menari sayu, dan mentari pagi baru menyibakkan hari baru, suara bergetar perih, pedih bersama guncangan bumi yang tak perna memahami ketakutan orang-orang yang berhamburan dari dalam rumah. Kehilangan yang sungguh nyata pagi itu hadir sebagai suguhan pahit kehidupan ini. Ada seorang ibu yang dengan cinta mesra memeluk malaikat kecilnya hingga pada keabadian, isak tangis kehilangan menjadi senandung getir, tinggal secerca harapan dalam sujud doa yang paling hening. Mereka hanya berpasrah pada Dia pemilik kehidupan. 

Nusa Tenggara Timur, tanah yang dikenal dengan kekayaan iman dan ketangguhan umatnya, tiba-tiba diselimuti duka. Rumah-rumah roboh, ruang-ruang kelas retak dan ribuan anak harus belajar di tenda darurat, jauh dari bangku dan papan tulis yang biasa mereka kenal. Di tengah reruntuhan itu, satu hal tetap berdiri tegak: harapan bahwa mereka tidak sendirian. Berita duka dari Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ende, hingga Ngada dan Sikka itu sampai pula ke telinga keluarga besar Yayasan Pendidikan  Ignatius Slamet Riyadi di Cijantung, Jakarta. Dan sebagaimana lazimnya sebuah keluarga sejati, jarak ribuan kilometer tidak membuat hati menjadi dingin. Justru sebaliknya: jarak itu menjadi ruang bagi kasih untuk membuktikan dirinya sungguh nyata, bukan sekadar kata dalam brosur sekolah. Sekolah kita mengusung motto Unggul, Kasih, dan Peduli. Selama ini motto tersebut sering hadir dalam pidato, spanduk, dan rapor prestasi anak-anak. Namun sebuah motto sejati baru menemukan maknanya yang penuh ketika ia diuji oleh kenyataan yang menyakitkan.

Bencana NTT adalah ujian sekaligus panggilan itu. Keunggulan (Unggul) sejati bukan hanya diukur dari nilai ujian atau piala lomba, melainkan dari kemampuan hati untuk melihat penderitaan sesama dan tidak berpaling. Kasih bukan sekadar perasaan hangat yang berhenti di dada, melainkan gerakan tangan yang mengumpulkan bantuan, menyisihkan uang jajan, dan menuliskan doa untuk saudara-saudari di Flores. Dan Peduli adalah buah dari keduanya: sebuah keputusan sadar untuk ikut memikul sedikit dari beban yang begitu berat itu. Ketika anak-anak Yayasan Pendidikan Ignatius Slamet Riyadi  menyisihkan sebagian uang saku mereka, ketika para guru mengoordinasikan penggalangan dana, dan ketika orang tua murid dengan sukarela menambahkan sumbangan, di sanalah motto sekolah berhenti menjadi slogan dan berubah menjadi doa yang berwujud nyata. Santo Ignatius Loyola mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, sekecil apa pun, hendaknya diarahkan Ad Maiorem Dei Gloriam, demi kemuliaan Allah yang lebih besar. Semboyan ini bukan sekadar motto yang tertulis indah di logo sekolah, melainkan sebuah kompas hidup: bahwa setiap tindakan kasih, betapapun kecil kelihatannya, memiliki nilai kekal di hadapan Allah.

Ketika seorang anak menyerahkan uang recehnya untuk saudara-saudarinya di Flores, ketika sebuah panitia kecil bekerja tanpa pamrih menghitung dan mengemas bantuan semuanya itu, sekecil apa pun ukurannya di mata dunia, menjadi besar di mata Allah. Sebab bukan besarnya persembahan yang dihitung Tuhan, melainkan besarnya kasih yang menyertainya, seperti janda miskin yang mempersembahkan dua peser di depan Bait Allah. “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”  (1 Yohanes 3:18)

Pendidikan Ignatian selalu bercita-cita membentuk manusia yang utuh: cerdas secara akal budi, kuat secara karakter, dan peka secara nuraniserta sebagai pribadi-pribadi yang oleh Pastor Pedro Arrupe SJ pernah disebut sebagai “men and women for others”, manusia bagi sesama. Aksi kepedulian terhadap korban bencana NTT ini menjadi ladang iman yang hidup bagi anak-anak Yayasan Pendidikan Ignatius Slamet Riyadi  untuk berbagi kasih: bahwa menjadi unggul secara akademis tanpa kepekaan sosial hanyalah kemegahan yang kosong.  Jarak antara Cijantung dan Flores memang terbentang oleh lautan dan pulau-pulau. Namun kasih Kristiani tidak pernah mengenal batas geografis.  Aksi sosial seperti ini seringkali kami lakukan seperti sebelumnya juga keluarga besar Yayasan Pendidikan Ignatius Slamet Riyadi  berbagi kasih dan menyalurkan bantuan untuk saudara-saudari yang berdampak bencana di Sumatera, kami menyadari bahwa  Gereja adalah satu Tubuh, dan ketika satu anggota menderita, seluruh anggota turut menderita bersamanya (bdk. 1 Korintus 12:26). Solidaritas sekolah kita bagi korban bencana NTT dan juga Sumatera adalah wujud nyata dari persekutuan iman itu bukti bahwa keluarga besar Yayasan Pendidikan Ignatius Slamet Riyadi sungguh hidup sebagai satu tubuh dalam Kristus.

Semoga setiap bantuan yang dikirimkan, sekecil apa pun, menjadi tanda bahwa harapan belum runtuh bersama bangunan-bangunan di Flores. Dan semoga anak-anak kita di Cijantung belajar satu pelajaran terpenting yang tidak akan pernah muncul dalam soal ujian: bahwa hidup yang unggul adalah hidup yang mengasihi, dan kasih yang sejati selalu berujung pada kepedulian yang nyata semuanya untuk Ad Maiorem Dei Gloriam, demi kemuliaan Allah yang lebih besar.

Terima kasih berlimpah untuk semua orang tua yang dengan kebesaran hati  memberikan berkat kepada saudara-saudari kita di Flores. Kasih dan Kebaikan Tuhan senantiasa melimpah dalam perjalanan hidupmu.

Tuhan memberkati selalu.

Tuliskan Komentar Anda